Dilansir dari Liverpool Echo, mengungkapkan tentang bagaimana Liverpool berjalan tanpa memiliki gelandang kreatif sejak ditinggal Coutinho pada Januari 2018. Ketika itu, The Reds dianggap akan kewalahan dalam membangun serangan dan membutuhkan sosok pengganti yang sepadan.
![]() |
| (Foto : Sebastian Frej/Gettyimages) |
Akan tetapi, dalam dua musim terakhir, Liverpool justru tampil superior. Mereka menuntaskan musim yang nyaris menjadi juara dengan rekor jumlah poin tertinggi mereka dalam semusim. Jumlah gol yang disarangkan pun cukup fantastis dengan mencatatkan 89 gol di musim itu.
Di musim ini, Liverpool mencatatkan rata-rata 15,6 tembakan per pertandingan. Trio lini depan pada diri Mane, Firmino dan Mohamed Salah menjadi sosok paling kontributif menciptakan gol untuk Liverpool. Total ketiganya menciptakan 38 gol dari 64 gol di Premier League musim ini.
Masalah utama Liverpool sejak kehilangan Coutinho adalah membangun kreativitas untuk membongkar pertahanan rapat lawan. Musim ini, The Reds cukup kesulitan menghadapi tim-tim dengan pertahanan berlapis seperti saat berhadapan Atletico Madrid di Liga Champions.
Namun, Liverpool cukup beruntung memiliki dua fullback andalan pada diri Trent Alexander-Arnold dan Andy Robertson. Keduanya memiliki catatan yang bagus dalam menciptakan peluang di setiap pertandingan. Arnold sendiri telah menorehkan 12 asisst di Premier League, sementara Andy Robertson mencatatkan 7 asisst.
Setidaknya Liverpool telah menunjukkan bahwa mereka mampu mengatasi kekurangan tim semenjak di tinggal sosok playmaker seperti Coutinho. Permainan atraktif tetap diperlihatkan The Reds dan menjadikan mereka sebagai tim terbaik musim ini.
Walau demikian, skuad Juergen Klopp masih dianggap perlu memiliki gelandang kreatif di tim mereka. Hal itu akan memberikan ragam variatif serangan dan membuat tim dapat bermain lebih terbuka.


0 komentar:
Post a Comment